
Heritage
Jejak
Warisan Keluarga
Louis Vuitton
Sebuah Warisan yang Hidup
Louis Vuitton lahir pada tahun 1821 di Anchay, sebuah desa kecil yang terletak di pegunungan Jura. Keluarganya, para penggiling gandum sejak abad ke-17, tinggal dan bekerja di tengah hutan, menggiling biji-bijian dan membentuk kayu menggunakan tenaga kincir air. Di antara irama kayu dan aliran air inilah Louis menumbuhkan rasa hormat yang mendalam terhadap keahlian tangan.
Pada usia 14 tahun, ia memutuskan untuk berangkat ke Paris — berjalan kaki melintasi Prancis. Selama dua tahun, ia bekerja sebagai buruh harian, penjaga kandang kuda, dan penebang pohon, mengasah ketangguhan serta daya juangnya.
Setibanya di Paris pada tahun 1837, ia magang pada Romain Maréchal, seorang pembuat dan pengepak trunk ternama. Selama tujuh belas tahun, Louis belajar merancang dengan presisi dan memahami kebutuhan para traveler elit — menanamkan fondasi keterampilan yang kelak melahirkan sebuah warisan legendaris.
Seorang Artisan dengan Jiwa Entrepreneur
Setelah menikah, Louis membuka butik pertamanya pada tahun 1854 di 4 Rue Neuve-des-Capucines, hanya beberapa langkah dari Place Vendôme. Karya trunk awalnya masih merepresentasikan bentuk tradisional masa itu — dengan tutup melengkung dan penguat besi. Namun tak lama kemudian, ia merevolusi desainnya dengan memperkenalkan model tutup datar berbalut material Trianon grey canvas — lebih ringan, kokoh, mudah ditumpuk, dan sempurna bagi dunia yang terus bergerak.
The Heart of the House
Seiring berkembangnya usahanya, Louis membeli sebidang tanah di Asnières-sur-Seine pada tahun 1859 untuk membangun sebuah atelier — lokasi yang dipilih karena kedekatannya dengan kehidupan sosial Paris yang dinamis dan jalur distribusi utama. Menjelang tahun 1870-an, keluarga Vuitton menetap di Asnières, menjadikannya rumah sekaligus pusat warisan Louis Vuitton — tempat savoir-faire, inovasi, dan seni diwariskan dari generasi ke generasi.
Georges Vuitton
Dari Perjalanan Seorang Pria Menuju Sebuah Rumah Mode Global
Pada tahun 1857, Louis menyambut kelahiran satu-satunya anaknya, Georges, yang memulai magang di Ateliers d’Asnières pada usia 16 tahun. Pada 1880, ia mengambil alih pengelolaan butik di Rue Scribe, Paris — menandai awal baru bagi Rumah Mode Louis Vuitton. Bersama sang ayah, Georges memperluas atelier di Asnières dan menambahkan departemen khusus untuk leather goods. Tumbuh di tengah dunia trunk dan perjalanan, Georges memulai babak baru bagi Rumah Mode dengan ide-ide berani dan energi tanpa batas. Pada tahun 1888, ia memperkenalkan Damier canvas, yang untuk pertama kalinya menampilkan nama “Vuitton” di bagian luar koper. Setahun kemudian, ia mematenkan sistem kunci multi-alur yang revolusioner dan tak dapat dibobol, untuk melindungi barang-barang paling berharga milik para kliennya.
Ketika desain kanvas semakin banyak ditiru, pada tahun 1896 Georges mulai mencari motif baru yang akan menjadi lambang khas bagi Louis Vuitton. Terinspirasi oleh Art Nouveau, aliran Japonisme, dan seni heraldik Gotik, Georges menciptakan kanvas Monogram yang kini ikonis — menggabungkan motif bunga geometris dengan inisial “LV” — sebagai penghormatan bagi sang ayah yang telah berpulang pada tahun 1892.
Pada tahun 1885, Georges membuka butik internasional pertama Louis Vuitton di London, yang kemudian dengan cepat diikuti oleh ekspansi ke New York, Philadelphia, Nice, dan Lille — membawa nama Vuitton ke dunia para traveler yang terus berkembang. Menyadari kebutuhan akan ruang yang lebih besar di Paris, pada tahun 1914 Georges menggagas kembali pengalaman berbelanja Louis Vuitton dengan bekerja sama bersama seorang arsitek untuk menciptakan desain baru. Hasilnya adalah pembukaan butik megah di Avenue des Champs-Élysées — dikenal sebagai “Vuitton Building”, simbol kemewahan dan visi modern Rumah Mode.
Gaston-Louis Vuitton
Menjelajahi Teritori Baru
Lahir di Asnières pada tahun 1883, Gaston-Louis tumbuh di antara trunk, perkakas, dan kisah-kisah perjalanan ke negeri jauh. Seorang kolektor, bibliofil, dan pemikir kreatif, ia memperkenalkan material yang lebih ringan dan lentur, serta menafsirkan kembali seni bepergian untuk generasi baru — menandai dimulainya gelombang ekspansi berikutnya bagi Rumah Mode.
Sebagai seorang seniman, Gaston-Louis membawa Louis Vuitton ke sorotan kreatif era 1920-an, yang berpuncak pada partisipasi Rumah Mode dalam Exposition Internationale des Arts Décoratifs di Paris pada tahun 1925.
Semangat inovasi dan eksplorasi yang sama mendorongnya untuk melangkah melampaui ranah keterampilan. Mulai dari debut jam Star Clock pada tahun 1910 dalam dunia horologi, hingga mempersiapkan mobil Motobloc untuk balapan New York–Paris, dan penciptaan Heures d’Absence pada tahun 1927 — parfum pertama Rumah Mode — Gaston-Louis memperluas semesta Louis Vuitton ke berbagai bidang keahlian, membentuk fondasi dunia yang kita kenal hari ini.
Melintasi generasi, perjalanan Louis Vuitton berkembang dari mimpi seorang artisan menjadi representasi global akan warisan, inovasi, dan keanggunan abadi. Setiap bab yang berakar pada keterampilan tangan terus membentuk identitas Rumah Mode hingga hari ini.
Sebuah
Perjalanan Legendaris
Rue Neuve-des-Capucines
Pada usia 33 tahun, Louis membuka butik pertamanya di Rue Neuve-des-Capucines, tak jauh dari Place Vendôme. Standar tinggi dan keahliannya dalam pertukangan kayu menginspirasinya untuk merancang sendiri koleksi trunk di workshop miliknya di Rue du Rocher. Pada tahun yang sama, ia menikahi Clémence-Émilie Parriaux.
Trianon Grey Canvas
Louis melapisi trunk bertutup datarnya dengan kanvas rami yang diwarnai dengan cat minyak — lebih ringan dari kulit, praktis, dan tahan air. Awalnya disebut gris ordinaire (abu-abu biasa), warna tersebut kemudian dikenal sebagai Trianon Grey, terinspirasi oleh nuansa lembut Tuileries dan kediaman kekaisaran lainnya.
Dari Rounded Menjadi Flat Trunk
Sekitar tahun 1860, Louis merevolusi dunia traveling dengan mengganti bentuk tutup yang sebelumnya melengkung menjadi datar, menjadikan trunk lebih mudah ditumpuk. Diperkuat dan dibuat dari kayu poplar yang ringan, model "slatted" trunk baru ini memadukan daya tahan dan fungsionalitas — menjadi tonggak penting dalam seni perjalanan.
Ateliers di Asnières-sur-Seine
Setelah workshop-nya di Paris tak lagi cukup, Louis dan istrinya membeli lahan seluas 1.080 meter persegi di Asnières-sur-Seine — mencerminkan pola pikirnya yang pragmatis. Kota ini terhubung langsung ke Paris melalui jalur kereta baru, sementara kedekatannya dengan Sungai Seine memudahkan pengiriman kayu poplar yang digunakan untuk membuat rangka trunk.
Paris Universal Exhibition
Louis mengajukan diri untuk berpartisipasi pada Paris Universal Exhibition pada tahun 1867. Terdaftar sebagai seorang "pembuat dan pengemas travel trunk," ia menampilkan trunk-nya yang sudah dipatenkan untuk pertama kali dalam sebuah acara yang prestisius, menarik perhatian klien high-profile kosmopolitan. Ia dianugerahi medali perunggu atas kreasinya.
The Striped Canvas
Akibat banyaknya peniruan terhadap Trianon Grey canvas, Louis Vuitton memperkenalkan motif kanvas bergaris dalam balutan warna merah dan krem. Empat tahun kemudian, ia mengganti desainnya menjadi perpaduan warna krem dengan garis-garis terang dan gelap yang berselang-seling. Sebuah paten yang diajukan pada tahun 1877 memastikan perlindungan terhadap pola dan desain tersebut.
Leather Goods di Asnières Workshops
Melanjutkan keunggulan dalam keahlian keterampilan tangannya, Louis dan putranya, Georges — yang baru saja diangkat sebagai direktur butik Rue Scribe — memperluas workshop di Asnières pada tahun 1880 dengan menambahkan satu area khusus untuk leather goods.
Butik Luar Negeri Pertama
Rumah mode ini merambah Britania Raya, yang dikenal akan barang-barang perjalanan dan pasarnya yang dinamis. Mengandalkan pendidikannya di Jersey Island, Georges Vuitton membuka butik pertama di London pada tahun 1885 di Oxford Street. Kemudian pada tahun 1900, butik tersebut dipindahkan ke New Bond Street — alamat yang hingga kini tetap menjadi lokasi ikonis Louis Vuitton di kota tersebut.
The Damier Canvas
Meskipun telah dipatenkan, striped canvas tetap banyak ditiru. Louis dan putranya, Georges, kemudian menciptakan versi baru: Damier canvas. Georges mendaftarkan desain ini, termasuk untuk pertama kalinya mencantumkan label “Marque L. Vuitton Déposée” pada salah satu kotak kecil berwarna cokelat di atas latar krem.
Sebuah Koper Trunk yang Aman
Untuk melindungi barang-barang berharga para kliennya, Georges Vuitton mematenkan sistem kunci multi-tumbler yang terkenal karena tak dapat dibobol dan tahan gangguan. Sistem ini, yang masih digunakan hingga kini, memungkinkan para klien membuka seluruh bagasi mereka hanya dengan satu kunci.
The Monogram Canvas
Ketika Damier canvas mulai ditiru, Georges menciptakan pola baru yang menampilkan inisial “L.V.” sebagai tribut kepada ayahnya. Awalnya disebut L.V. canvas, dan sejak 1896 dikenal sebagai Monogram canvas, desain ini mempertahankan palet warna Damier dan menampilkan empat simbol — tiga motif bunga yang menggabungkan unsur botani dan geometri, serta inisial Louis Vuitton.
Perluasan ke Amerika Serikat
Selama perjalanannya ke Amerika Serikat pada tahun 1893, Georges berambisi memperluas jangkauan Rumah Mode ke luar Eropa. Pada tahun 1898, trunk Louis Vuitton mulai dipamerkan dan dijual oleh John Wanamaker di New York dan Philadelphia, diikuti oleh pembukaan di berbagai lokasi internasional lainnya.
The Steamer
Diciptakan pada awal 1900-an, Steamer Bag — yang awalnya dirancang untuk menyimpan pakaian kotor — menjadi tas lembut pertama yang dapat dilipat dan disimpan di kompartemen bawah Wardrobe Trunk selama perjalanan transatlantik. Seiring perkembangan moda transportasi, desainnya terus berevolusi dan menjelma menjadi salah satu tas perjalanan paling ikonis dari Louis Vuitton.
Vuittonite Canvas
Sejak awal tahun 1900, catatan penjualan Rumah Mode mencantumkan Pegamoid — sebuah material kanvas berlapis yang membuat kain menjadi tahan lama, kedap air, dan mudah dibersihkan. Bahan ini ideal untuk bagasi mobil dan pada tahun 1903 diberi nama "Vuittonite". Ringan sekaligus tangguh, material ini dapat diwarnai agar selaras dengan warna eksterior mobil mana pun.
Avenue des Champs-Élysées
Pada tahun 1914, Rumah Mode membuka butik di 70 Avenue des Champs-Élysées. Dikenal sebagai "Vuitton Building", butik ini langsung meraih kesuksesan besar berkat window display yang dirancang oleh Gaston-Louis Vuitton. Lokasi ini tetap menjadi alamat utama butik Louis Vuitton di Paris hingga tahun 1954, dan pada tahun 1998, Rumah Mode kembali ke avenue ikonis tersebut.
Parfum Pertama
Louis Vuitton meluncurkan parfum pertamanya, Heures d’Absence — dinamai dari rumah peristirahatan keluarga Vuitton dan disajikan dalam wadah berbentuk tonggak serta botol yang menghormati seni perjalanan modern. Pada tahun 2020, nama ini kembali dihidupkan melalui wewangian feminin yang baru. Kini, Rumah Mode terus melanjutkan warisan parfumnya melalui kreasi yang tak lekang oleh waktu.
The Keepall
Diperkenalkan pada tahun 1930-an dengan nama Tientout, Keepall awalnya dibuat dari kanvas dan kulit, kemudian dihadirkan dalam Monogram canvas serta berbagai bahan khas lainnya. Dengan siluet membulat, struktur horizontal yang fleksibel, dan pegangan Toron yang ikonis, Keepall menjadi simbol elegansi Louis Vuitton.
The Speedy
Diciptakan pada tahun 1930-an sebagai tas Express carry-on dan kemudian dinamai Speedy, Gaston-Louis Vuitton merancangnya untuk mencerminkan pesona era yang terobsesi pada kecepatan. Pada tahun 1959, tas ini dibuat ulang dalam Monogram canvas dan diubah menjadi tas tangan, semakin legendaris ketika dikenakan oleh Audrey Hepburn.
The Noé Bag
Ketika sebuah produsen champagne memesan tas yang elegan sekaligus kuat untuk membawa lima botol, Gaston-Louis Vuitton merancang Noé Bag. Tas ini kemudian direinterpretasi sebagai city bag dan dilapisi Monogram canvas pada tahun 1959. Sejak itu, Noé terus berevolusi — hadir dalam beragam warna dan ukuran.
The Flexible Canvas
Diperkenalkan pada tahun 1896, Monogram canvas ideal untuk bentuk tas yang kaku tetapi kurang sesuai untuk desain yang fleksibel. Pada akhir 1950-an, untuk mengatasi keterbatasan ini, Claude-Louis Vuitton mengembangkan proses pelapisan baru yang meningkatkan kelenturan tanpa mengorbankan daya tahan. Inovasi ini membuka jalan bagi kebangkitan leather goods.
The Sac Plat
Pertama kali diciptakan sebagai tas pantai pada tahun 1968, Sac Plat terus berevolusi, dihadirkan dalam palet warna, motif, dan ukuran yang memikat. Dirancang dengan mempertimbangkan kepraktisan, model yang lapang dan nyaman ini menjadi sebuah effortless everyday essential.
The Dauphine
Terinspirasi dari model yang dirancang pada tahun 1976, Dauphine diinterpretasikan kembali oleh Nicolas Ghesquière untuk Cruise Collection 2019. Dinamai sesuai sebuah alun-alun di Paris, tas ini menampilkan kancing penutup berlogo lingkaran “LV” — merek dagang yang pertama kali didaftarkan oleh Gaston-Louis Vuitton pada tahun 1908.
Peresmian Butik Jepang
Louis Vuitton secara resmi memasuki pasar Jepang pada tahun 1978 dengan pembukaan toko franchise pertamanya di Tokyo dan Osaka. Tiga tahun kemudian, pada 1981, Rumah Mode membuka butik pertamanya yang dikelola langsung di distrik Ginza yang bergengsi di Tokyo, tepatnya di Namiki-dori.
Kemitraan Olahraga Pertama
Jejak Louis Vuitton di dunia olahraga dimulai pada tahun 1983, ketika Rumah Mode menjadi tuan rumah babak penyisihan America’s Cup — kompetisi pelayaran internasional tertua di dunia — dan membuat bespoke trunk untuk pialanya. Sejak itu, Louis Vuitton terus bermitra dengan berbagai ajang olahraga bergengsi di seluruh dunia.
The Epi leather
Diperkenalkan pada tahun 1985, Epi leather terinspirasi dari kulit bertekstur yang digunakan pada tahun 1920-an — termasuk tea-case Maharaja tahun 1926. Melalui proses drum-dyeing dan embossing dengan motif Epi khas, material ini tampil kokoh, tahan gores, dan semakin indah seiring waktu. Dikenal berkat warna-warnanya yang vibrant dan keterampilan luar biasa, Epi leather menjelma menjadi salah satu material khas Louis Vuitton.
The Alma
Awalnya dinamai Squire Bag pada tahun 1934, model ini mengalami sejumlah evolusi desain, berganti nama menjadi Champs-Élysées dan kemudian Marceau, sebelum akhirnya dikenal sebagai Alma pada tahun 1992. Terinspirasi dari gaya Art Deco, garis-garis geometrisnya telah diinterpretasi ulang selama hampir satu abad, berpuncak pada peluncuran ukuran BB pada tahun 2010.
1997
Pada tahun 1997, Louis Vuitton menunjuk Marc Jacobs sebagai Artistic Director untuk koleksi Women's dan Men's Ready-to-Wear, menandai ekspansi besar ke dunia mode. Selama enam belas tahun, ia menghidupkan kembali semangat kreatif Rumah Mode melalui pertunjukan spektakuler dan kolaborasi artistik dengan seniman seperti Stephen Sprouse, Takashi Murakami, dan Richard Prince.
Perpustakaan Louis Vuitton
Selama lebih dari dua dekade, Louis Vuitton membangun warisan penerbitan dengan hampir seratus judul yang tersebar dalam tiga seri perjalanan utama: City Guide, Travel Book, dan Fashion Eye. Melalui kolaborasi dengan penerbit internasional, Rumah Mode ini juga menerbitkan buku-buku yang merayakan kreativitasnya.
Kolaborasi Khas
Rumah Mode memulai kolaborasi artistik pertamanya di tahun 1910, membentuk sebuah dialog antara kreasi menawan dan kontemporer. Di tahun 2001, Stephen Sprouse merancang ulang Monogram canvas. Sejak saat itu, Louis Vuitton berkolaborasi dengan seniman sepertiTakashi Murakami, Richard Prince, Yayoi Kusama, dan Jeff Koons.
Tambour Watch Pertama
Menandai debutnya dalam dunia horologi, Louis Vuitton memperkenalkan jam tangan Tambour. Dengan case berbentuk drum, dial berwarna cokelat, dan jarum jam berwarna kuning sebagai penghormatan pada benang sejarah yang digunakan dalam pengerjaan kulit, Tambour memadukan presisi Swiss dengan gaya estetika abadi Rumah Mode. Hingga kini, Louis Vuitton terus mendefinisikan ulang keunggulan dalam seni pembuatan jam.
Koleksi Fine Jewelry Pertama
Terinspirasi dari trunk orisinal Louis Vuitton dan tanda tangan ikonisnya, Koleksi Empreinte (2004) menghadirkan semangat perjalanan yang menjadi ciri khas Rumah Mode. Kini, Louis Vuitton terus mendorong batas kreativitas dan inovasi dengan menghadirkan koleksi Fine dan High Jewelry yang istimewa.
The Christopher
Pertama kali diperkenalkan dalam fashion show Men’s Fall-Winter 2004–2005, ransel Christopher memadukan fungsionalitas luas dengan keanggunan kasual. Detail pengunci yang aman dan kantong multifungsi menjadikannya teman sempurna untuk petualangan urban maupun penampilan yang lebih terstruktur.
Pameran Louis Vuitton
Pada tahun 2006, Louis Vuitton meluncurkan Espaces Louis Vuitton — ruang pameran yang berkembang dari Paris ke berbagai kota besar di dunia. Perjalanan kultural ini berlanjut melalui Volez, Voguez, Voyagez (2015), LV Dream (2022), hingga Visionary Journeys (2024) — pameran keliling di panggung global.
The Neverfull
Sesuai dengan namanya, Neverfull menghadirkan fleksibilitas tanpa batas — luas, ringan, dan luar biasa tahan lama. Desainnya menjadikannya ikon keseharian yang tak lekang oleh waktu. Pada tahun 2024, model ini ditafsirkan ulang menjadi Neverfull Inside Out yang sepenuhnya reversibel.
2011
Pada tahun 2013, Kim Jones ditunjuk sebagai Artistic Director untuk lini Men’s Ready-to-Wear Louis Vuitton di bawah arahan Marc Jacobs. Setelah Marc meninggalkan posisinya, Jones menghadirkan semangat baru dengan memadukan gaya klasik Rumah Mode dan pengaruh streetwear kontemporer. Masa kepemimpinannya ditandai dengan kolaborasi penting bersama Chapman Brothers, Christopher Nemeth, hingga Supreme.
Objets Nomades
Menggabungkan semangat perjalanan Louis Vuitton ke dalam dunia desain dan furnitur, koleksi Objets Nomades menampilkan karya edisi terbatas dari para desainer ternama seperti Campana Brothers. Mempertemukan kreativitas dan inovasi, koleksi ini terus berevolusi setiap tahun melalui ajang bergengsi seperti Milan Design Week dan Art Basel Miami.
2012
Pada tahun 2012, Jacques Cavallier Belletrud memulai perjalanan olfaktori sebagai Master Perfumer Louis Vuitton. Merupakan seorang putra dan cucu dari keluarga pembuat parfum, ia membawa keahliannya dari Grasse — di workshop Les Fontaines Parfumées — untuk menciptakan wewangian yang menonjolkan savoir-faire dan bahan mentah paling istimewa di dunia.
2013
Sebagai Artistic Director of Women’s Collections, Nicolas Ghesquière terus menafsirkan ulang keanggunan feminin dengan semangat inovatif. Visi kreatifnya menghidupkan kembali kode-kode desain Rumah Mode, menghadirkannya dalam siluet yang berani dan berarsitektur.
The Capucines
Tas Capucines menghadirkan keabadian dan fleksibilitas yang melengkapi gaya kasual maupun elegan. Desainnya menampilkan savoir-faire khas Louis Vuitton melalui penggunaan material kulit alami yang lembut dan halus. Sebagai tribut terhadap warisan Ruamh Mode, tas ini dinamai sesuai dengan butik pertama Louis Vuitton di 4 Rue Neuve-des-Capucines.
The Petite Malle
Sebagai salah satu karya ikonis dari pertunjukan perdana koleksi wanita Fall-Winter 2014 oleh Nicolas Ghesquière, Petite Malle terinspirasi dari trunk milik Albert Kahn — seorang bankir dan filantropis. Didesain untuk menyesuaikan gaya hidup modern nomadism, tas ini terus ditafsirkan ulang dalam berbagai bentuk dan material.
Fondation Louis Vuitton
Dibuka pada tahun 2014 dan dirancang oleh arsitek visioner Frank Gehry, Fondation Louis Vuitton merupakan museum seni kontemporer yang terletak di Bois de Boulogne, Paris. Bangunan dengan arsitektur khas ini menjadi rumah bagi koleksi permanen dan pameran besar yang menampilkan karya para maestro seperti Monet, Basquiat, dan Rothko.
The Twist
Dibalut dengan keanggunan kontemporer, tas ikonis Twist mencerminkan warisan Louis Vuitton melalui kancing LV yang khas. Terus berevolusi setiap musim dengan sentuhan kreatif Rumah Mode, Twist mewujudkan siluet yang memadukan gaya elegan dan fleksibilitas untuk penggunaan sehari-hari.
The Gaming
Sebagai pelopor di dunia gaming, Louis Vuitton berkolaborasi dengan Final Fantasy pada tahun 2016, menampilkan tokoh pahlawan Lightning dalam kampanye unik dan koleksi kapsul rancangan Nicolas Ghesquière. Pada tahun 2019, Rumah Mode melanjutkan eksplorasinya di dunia virtual dengan bekerja sama bersama Riot Games’ League of Legends, merancang skin eksklusif untuk Qiyana serta bespoke trophy trunk.
2018
Desainer asal Amerika Serikat yang visioner ini bergabung dengan Louis Vuitton pada tahun 2018, membawa pengaruh streetwear yang kuat ke dalam koleksi busana pria. Dengan pendekatan yang segar dan relevan bagi generasi muda, Virgil Abloh menafsirkan kembali warisan Louis Vuitton melalui lensa kontemporer — menghadirkan visi yang inklusif dan beragam.
2018
Menjabat sebagai Watches and Jewelry Artistic Director hingga tahun 2025, Francesca Amfitheatrof menghidupkan kembali savoir-faire tradisional dengan pendekatan modern yang berpijak pada pengalaman dan perjalanannya di seluruh dunia. Didorong oleh semangat inovatif, ia menciptakan rangkaian kreasi yang merayakan identitas ikonis Louis Vuitton.
The OntheGo
Sesuai namanya, OnTheGo diciptakan untuk menemani kehidupan dinamis perempuan modern. Diperkenalkan pada tahun 2019, tas ini dirancang sebagai structured tote yang lapang namun elegan — memadukan kemegahan kanvas Monogram klasik dengan siluet modern.
Soft Trunk
Dalam debutnya untuk koleksi Spring-Summer 2019 Louis Vuitton, Virgil Abloh menafsirkan ulang trunk ikonis dengan sentuhan lembut dan fleksibel — sebuah tas kontemporer yang dirancang untuk dikenakan di bahu atau digenggam sebagai clutch.
Restoran Louis Vuitton Pertama
Pada tahun 2020, Louis Vuitton membuka restoran pertamanya di Maison Osaka Midosuji, bekerja sama dengan chef ternama Yosuke Suga. Sejak itu, Rumah Mode memperluas dunia kulinernya ke Saint-Tropez, Bangkok, New York, dan Milan, menyatukan mode dan gastronomi di berbagai belahan dunia
The Coussin
Diperkenalkan dalam koleksi Spring-Summer 2021, Coussin bag menghadirkan perpaduan kelembutan, volume, dan fleksibilitas. Dengan tiga kompartemen beritsleting, desainnya menawarkan interior fungsinal untuk keanggunan sehari-hari.
The Side Trunk
Terinspirasi dari warisan trunkmaking Rumah Mode, Side Trunk pertama kali diperkenalkan dalam fashion show Cruise 2023. Karya Nicolas Ghesquière ini menafsirkan ulang ikon Petite Malle (yang diperkenalkan pada 2014) dengan sentuhan baru yang modern dan segar.
2023
Sebagai musisi, pembuat film, dan filantropis, Pharrell Williams membawa visi kreatifnya yang inovatif ke Louis Vuitton sebagai Men’s Creative Director. Ia menembus batas konvensi gaya maskulin, menanamkan sentuhan kontemporer yang menegaskan semangat pionir dan savoir-faire ikonis Rumah Mode.
2025
Pada tahun 2025, Louis Vuitton memulai babak baru dengan peluncuran La Beauté Louis Vuitton — ekspansi kreatif yang menegaskan semangat perjalanan dan keunggulan artistik Rumah Mode. Dipimpin oleh Dame Pat McGrath, DBE, sebagai Cosmetics Creative Director.
Koleksi Kecantikan Pertama
Setia pada warisan dan semangat inovasi, Louis Vuitton mempersembahkan rangkaian kreasi dan aksesori kecantikan yang dirancang sebagai objets d’art. Setiap lipstik, lip balm, dan eyeshadow isi ulang menampilkan formula eksklusif dalam palet warna luas yang merayakan ekspresi diri, dirancang dengan presisi oleh Dame Pat McGrath.
Malletier
yang Abadi
The Domed Trunk
Louis Vuitton merevolusi dunia trunk-making dengan desain yang praktis, tahan air, dan bebas bau. Dengan struktur melengkung, trunk ini mampu menahan dan menumpahkan air hujan sehingga kelembapan tidak menempel pada permukaannya. Meninggalkan penggunaan kulit, ia memperkenalkan Trianon Grey canvas, direkatkan menggunakan perekat khusus untuk menambah ketahanan.
The Flat Trunk
Louis memperkenalkan desain flat-topped trunk, diperkuat dengan bilah besi dan papan beechwood, tapi tetap ringan berkat penggunaan kayu poplar. Dapat ditumpuk, tahan benturan, dan kedap air — inovasi ini mengubah cara dunia bepergian. Untuk melindungi kreasinya, Louis mematenkan detail kulit khas yang menjadi ciri desainnya.
The Wardrobe Trunk
Diperkenalkan pada tahun 1875, Wardrobe Trunk mendefinisikan ulang travel storage. Dirancang untuk berdiri tegak di kabin pelancong, trunk ini terbuka layaknya lemari. Tanpa perlu membongkar atau mengemas ulang, ia menjadi pendamping ideal dalam perjalanan lintas samudra.
The Bed Trunk
Diciptakan pada pertengahan 1880-an, Bed Trunk menjadi wujud nyata semangat inovasi Rumah Mode. Dipatenkan oleh Georges Vuitton pada tahun 1885, rancangan brilian ini mendapat sambutan luas di berbagai pameran universal dan internasional. Praktis sekaligus menawan, trunk ini menjadi sahabat setia bagi para penjelajah dan petualang.
The Flower Trunk
Sekitar tahun 1910, Louis Vuitton mengirimkan buket bunga kepada klien setianya dalam sebuah planter trunk berlapis Monogram canvas dengan bagian dalam seng tahan air. Setelah bunga layu, bagasi mungil nan elegan ini dapat digunakan kembali — sebagai kotak perhiasan atau kenangan berharga.
The Shoe Trunk
Diperkenalkan pada Exposition Internationale des Arts Décoratifs et Industriels Modernes tahun 1925, Shoe Trunk Secretary -- awalnya dirancang dengan tiga puluh kompartemen berlapis lembut -- dibuat untuk menyimpan sepatu, boots, dan aksesori dengan penuh gaya.
The Toiletry Case
Pada tahun 1916, penyanyi opera Marthe Chenal memesan sebuah toiletry case dari pigskin dengan desain drop-front yang inovatif. Model tersebut secara resmi didaftarkan atas namanya pada 1925, dan di tahun yang sama, versi terbarunya dipamerkan dalam International Exhibition of Decorative Arts.
The Stokowski Secretary Desk
Diciptakan khusus untuk Leopold Stokowski, konduktor kelahiran Polandia yang berkebangsaan Inggris, Secretary Desk ini dirancang untuk menyesuaikan dengan kebiasaan kerjanya saat bepergian. Dilengkapi rak, laci, dan ruang untuk mesin tik, meja ini dapat dibuka dan diperluas menjadi meja kerja lipat. Gaston-Louis Vuitton menamai model tersebut sesuai nama kliennya, “Stokowski Bureau Secretary.”
The Trophy Trunk
Pada tahun 1988, Louis Vuitton merancang Trophy Trunk pertamanya dalam material epi blue leather untuk ajang America’s Cup, serta menandai komitmennya pada tahun 1992, dengan hadirnya Trophy Trunk berlapis red epi leather untuk Louis Vuitton Cup. Sejak saat itu, Louis Vuitton terus menjadi bagian dari momen kemenangan dalam kompetisi paling bergengsi di dunia — mewujudkan semboyannya, “Victory travels in Louis Vuitton.”
The 1000 Cigars Trunk
Diciptakan di tahun 1997, kreasi 1000 Cigars Trunk hadir istimewa. Interiornya yang berbahan varnished cedar, menampilkan keahlian dalam pemilihan kayu untuk menyimpan cerutu dengan sempurna.
The 8 Watch Case
Terinspirasi dari Coffret Trésor yang diperkenalkan sekitar tahun 2008 — yang merupakan penerus dari Boîte à Tout era 1950-an — 8 Watch Case menjadi bagian dari rangkaian koleksi trunk khusus jam tangan Louis Vuitton. Koleksi ini juga mencakup kreasi seperti 1 Watch Case, Boîte Main Montre, dan Malle Horlogère.
The Malle Coiffeuse
Dirancang untuk mengelevasi ritual kecantikan, Malle Coiffeuse (Vanity Trunk) diciptakan untuk menemani para klien dalam rutinitas perawatan kulit sehari-hari. Trunk ini terbuka dalam tiga bagian, menampilkan kompartemen, tray, dan laci yang tersusun rapi, dilengkapi bangku lipat serta kotak perhiasan elegan — memadukan keanggunan dan fungsionalitas.
The Sneaker Trunk
Mempertemukan tradisi yang tak lekang oleh waktu dengan desain modern, Sneaker Trunk wajib dimiliki oleh para kolektor. Bagian dalamnnya memiliki 14 laci dengan material kaca pada bagian depannya -- delapan untuk sepatu high-tops, enam untuk low-tops -- dengan dua cermin built-in.
Reedition of The Bed Trunk
Pertama kali dipatenkan pada tahun 1885, Bed Trunk ikonis kembali hadir pada tahun 2024 dengan tiga edisi terbaru. Mulai dari Monogram canvas klasik hingga reinterpretasi yang bold oleh Nicolas Ghesquière dan Pharrell Williams, setiap kreasinya memadukan warisan, kreativitas, dan visi desain yang progresif.
Olympic Trunks
Sebagai Premium Partner Olimpiade dan Paralimpiade Paris 2024, Rumah Mode menghadirkan trunk khusus untuk medali dan obor, melanjutkan sebuah warisan lebih dari 35 tahun dalam pembuatan trophy trunk ikonis yang memadukan inovasi, savoir-faire, dan keunggulan olahraga.